Komoditas Ekspor Perikanan Jadi Penopang Bandara Internasional Palu

Oleh: Handri Pinatik – Kepala Bidang Perikanan DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah

Tinta Jurnalis.Net. _ Status internasional yang disandang Bandara Mutiara SIS Al-Jufri bukan sekadar kebanggaan daerah. Lebih dari itu, status tersebut merupakan peluang strategis untuk menggerakkan ekonomi berbasis ekspor, khususnya dari sektor kelautan dan perikanan.

Rencana penerbangan internasional perdana dengan rute Palu–Guangzhou, China, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 17 April 2026 membuka harapan baru bagi pelaku usaha perikanan di Sulawesi Tengah. Jalur udara menjadi sangat penting karena banyak komoditas perikanan bernilai tinggi yang membutuhkan pengiriman cepat agar kualitasnya tetap terjaga hingga tiba di pasar internasional.

Selama ini, sejumlah komoditas unggulan perikanan Sulawesi Tengah yang kerap dilalulintaskan melalui jalur udara untuk ekspor antara lain kepiting hidup, tuna segar, sidat, lobster, kerang darah, hingga ikan kerapu. Komoditas-komoditas tersebut memiliki permintaan tinggi di pasar internasional, terutama di China, Singapura, Vietnam, dan beberapa negara lainnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, China menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar bagi produk kelautan dan perikanan Indonesia. Pada tahun 2025, ekspor perikanan Indonesia ke China mencapai sekitar 491.528 ton dengan nilai lebih dari 1,04 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah tersedia dan permintaannya sangat besar. Yang sering menjadi persoalan justru kesiapan dari sisi produksi serta dukungan kebijakan di dalam negeri.

Di sisi lain, China juga dikenal sebagai salah satu pengimpor produk perikanan terbesar di dunia, dengan nilai impor mencapai sekitar 23,5 miliar dolar AS. Impor tersebut mencakup berbagai komoditas, mulai dari ikan hidup, ikan beku, hingga produk olahan seperti tepung ikan yang dipasok dari berbagai negara produsen seafood, termasuk Indonesia. Ironisnya, daerah-daerah yang kaya sumber daya seperti Sulawesi Tengah justru belum mampu memaksimalkan peluang besar tersebut secara optimal.

Di balik peluang yang besar itu, terdapat tantangan yang tidak kecil. Salah satu persoalan utama adalah kontinuitas pasokan. Saat ini sebagian besar komoditas ekspor perikanan masih sangat bergantung pada tangkapan alam. Ketergantungan tersebut membuat volume produksi menjadi tidak stabil, sehingga menyulitkan pelaku usaha untuk menjamin ketersediaan produk secara berkelanjutan bagi pasar internasional.

Lebih memprihatinkan lagi, kondisi ini sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya langkah kebijakan yang benar-benar progresif untuk mengubah keadaan. Pemerintah kerap berbicara mengenai hilirisasi, industrialisasi perikanan, hingga peningkatan ekspor. Namun di lapangan, pengembangan sektor budidaya sebagai solusi utama justru masih berjalan lambat dan belum terlihat menjadi prioritas serius.

Di sinilah pentingnya peran dunia usaha dan para pemangku kepentingan lainnya. Sebagai Kepala Bidang Perikanan di DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah, saya memandang bahwa pengembangan sektor budidaya merupakan kunci utama untuk menjaga kesinambungan ekspor perikanan sekaligus mendukung keberlanjutan penerbangan internasional dari Bandara Udara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri Palu.

Sejalan dengan itu, APINDO juga terus menggaungkan konsep “Indonesia Incorporated”, yaitu semangat kolaborasi aktif antara pemerintah dan dunia usaha dalam membangun kekuatan ekonomi nasional secara bersama. Melalui konsep ini, pembangunan ekonomi tidak lagi berjalan secara parsial, melainkan melalui sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah, investasi swasta, serta strategi pembangunan daerah yang saling terintegrasi.

Konsep Indonesia Incorporated menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi daerah-daerah penghasil komoditas ekspor. Semangat ini sangat relevan untuk mendorong pengembangan sektor kelautan dan perikanan agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus mendukung aktivitas ekspor melalui jalur udara.

Dalam konteks ini, sektor perikanan sebenarnya dapat menjadi salah satu penopang utama keberlangsungan penerbangan internasional dari Palu. Tanpa ekspor komoditas bernilai tinggi, status internasional bandara hanya akan menjadi simbol tanpa aktivitas ekonomi yang kuat di belakangnya. Sebaliknya, apabila volume ekspor dapat terjaga secara konsisten, maka aktivitas penerbangan internasional akan ikut terdorong melalui meningkatnya pengiriman kargo udara.

Hal ini bahkan dapat membuka peluang bagi Palu untuk berkembang menjadi salah satu hub ekspor perikanan dari kawasan timur Indonesia.

Karena itu, pengembangan budidaya untuk komoditas bernilai tinggi seperti lobster, sidat, kerapu, kerang dara,kepiting dan benerapa jenis ikan lainnya harus menjadi prioritas. Budidaya tidak hanya memberikan kepastian produksi, tetapi juga mampu menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir.

Selain itu, penguatan rantai pasok juga perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana atau tempat budidaya, penyediaan benih berkualitas, penerapan teknologi budidaya, sistem logistik yang efisien dengan harga yang lebih terjangkau, hingga fasilitas penampungan ikan dan pengemasan yang memenuhi standar ekspor. 

Pendampingan bagi pelaku usaha juga diperlukan agar dapat memperoleh izin ekspor baik dari dalam negeri maupun dari negara tujuan ekspor, seperti sertifikat cara karantina ikan yang baik (CKIB) sebagai dokumen resmi dari Badan Karantina Indonesia yang menjamin instalasi karantina telah menerapkan prosedur biosekuriti secara efektif dan konsisten untuk mencegah penyebaran hama/penyakit ikan untuk ikan hidup, sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) sebagai dokumen pengakuan internasional yang membuktikan bahwa perusahaan pangan telah menerapkan sistem manajemen keamanan pangan secara preventif untuk mengendalikan bahaya biologis, kimia, dan fisik untuk produk ikan beku dan olahan hasil perikanan, serta beberapa perizinan dalam negeri lainnya dan perizinan dari General Administration of Customs of China (GACC) sehingga dapat mengakses pasar China secara langsung.

Dengan sistem yang terintegrasi, Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat perdagangan komoditas perikanan bernilai tinggi.

Ke depan, rute penerbangan internasional Palu–Guangzhou dapat menjadi pintu gerbang baru bagi ekspor perikanan Sulawesi Tengah. Namun keberhasilan rute tersebut tidak hanya bergantung pada jumlah penumpang, maskapai, atau kinerja bandara semata, melainkan juga pada kemampuan daerah ini dalam memastikan ketersediaan komoditas ekspor secara konsisten.

Jika pengembangan budidaya dilakukan secara serius, maka sektor kelautan dan perikanan tidak hanya akan menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi penopang utama keberlangsungan bandar udara internasional mutiara sis al-jufri palu.

Sulawesi Tengah sebenarnya memiliki semua syarat untuk menjadi pusat ekspor perikanan dari kawasan timur Indonesia. Kini yang dibutuhkan adalah langkah nyata untuk beralih dari ketergantungan pada tangkapan alam menuju sistem produksi yang berkelanjutan melalui budidaya.

"Dengan demikian, langit Palu bukan hanya menjadi jalur penerbangan internasional, tetapi juga menjadi jalur distribusi kekayaan hasil kelautan dan perikanan Sulawesi Tengah menuju pasar dunia".

(Handri)